Pages

Monday, March 14, 2011

Lysosomal Storage Disorders (LSD)

1. Apa yang dimaksud dengan lisosom?

Lisosom adalah kantung terikat membran dari enzim hidrolitik yang digunakan oleh sel untuk mencerna makromolekul. Lisosom memiliki fungsi untuk melakukan pencernaan intraseluler. Lisosom menggunakan enzim hidrolitik untuk mendaur-ulang materi genetik pada sel yang dimilikinya. Enzim tersebut dapat bekerja secara optimal pada pH kira-kira 5. Lisosom mengandung 40 jenis enzim hidrolitik, seperti protease, nuclease, glikosidase, lipase, fosfolipase, fosfatase, dan sulfatase. Selain itu, lisosom mampu mendegradasi organel yang sudah rusak, seperti mitokondria.


2. Bagaimana lisosom bekerja di dalam sel?

Di dalam sel, lisosom bekerja melalui beberapa cara, yakni:

· Endositosis, yakni mencerna makromolekul yang diambil dari cairan ekstraseluler. Kemudian, makromolekul yang diendositosis akan dibawa ke dalam vesicle kecil (endosom). Kemudian, enzim hidrolase yang dikirim dari apparatus golgi akan mencerna makromolel tersebut.

· Fagositosis (phagein = makan, kytos = wadah), yakni proses mencerna makanan berupa pertikel besar dan mikroorganisme. Cara bekerjanya adalah makanan (partikel besar atau mikroorganisme) yang tertelan akan membentuk vakuola makanan. Lalu, vakuola tersebut akan bergabung dengan lisosom dan enzim yang dimiliki lisosom akan mencerna makanan tersebut.

· Autofagi, yakni proses mendaur-ulang materi genetik selnya sendiri dengan menggunakan enzim hidrolitiknya. Cara bekerjanya adalah enzim lisosom melucuti materi yang telah ditelan, kemudian monomer materi tersebut akan dikembalikan ke dalam sitosol kembali.


3. Apakah yang dimaksud dengan Lysosomal Storage Disorders (LSD)?

Lysosomal Storage Disorders merupakan penyakit genetik yang menyebabkan kurangnya satu atau lebih enzim hidrolase pada lisosom. LSD mengganggu fungsi enzim lisosom, sehingga akan mengakibatkan penumpukan partikel-partikel yang tidak dapat dicerna. Beberapa penyebab terjadinya LDS, yaitu:

- Kurangnya enzim aktivator.

- Kurangnya substrat protein aktivator.

- Kurangnya transport protein yang dibutuhkan untuk mengangkut hasil pencernaan dari lisosom.

- Kelainan pada proses post-translasional protein enzim.


4. Bagaimana LSD dikategorikan?

LSD dikategorikan berdasarkan jenis substrat yang mengalami penumpukan, yakni:

1. Kerusakan metabolisme glukosaminoglikans (Mukopolisakaridosis), yang meliputi: MPS I, MPS II, MPS III, MPS IV, MPS V, MPS VI, dan MPS VII.

2. Kerusakan degradasi glikan dari glikoprotein, yang meliputi: Aspatyglucosaminuria, Fucosidosis tipe I, Fucosidosis tipe II, Mannosidosis, Sialidosis tipe I, dan Sialidosis tipe II.

3. Kerusakan degradasi glikogen, yang meliputi: Pompe Disease.

4. Kerusakan degradasi komponen sphingolipid, yang meliputi: Acid Sphingomyelinase Deficiency, Fabry disease, Farber disease, Gaucher disease tipe I, Gaucher disease tipe II, Gaucher disease tipe III, GM1 gangliosidosis tipe I, GM1 gangliosidosis tipe II, GM1 gangliosidosis tipe III, Tay-Sachs disease tipe I, Tay-Sachs disease tipe II, Tay-Sachs disease tipe III, Sandhoff disease, Krabbé disease, metachromatic leukodystrophy tipe I, metachromatic leukodystrophy tipe II, dan metachromatic leukodystrophy tipe III.

5. Kerusakan degradasi polipeptida, yang meliputi: pycnodysostosis.

6. Kerusakan degradasi transport kolesterol, kolesterol ester, atau kompleks lipid lainnya, yang meliputi: Neuronal ceroid lipofuscinosis type I, Neuronal ceroid lipofuscinosis type II, Neuronal ceroid lipofuscinosis type III, dan Neuronal ceroid lipofuscinosis type IV.

7. Defisiensi multipel enzim lisosom, meliputi: Galaktosialidosis, Mukolipidosis type II, dan Mukolipidosis type III.

8. Kerusakan transpor dan pertukaran, yang meliputi: Cystinosis, Mukolipidosis IV, Infantile Siacid Storage Disease, dan Salla Disease.


5. Apa gejala-gejala “Red Flag” untuk LSD?

Tanda-tanda Red Flag pada LSD adalah:

· Bentuk wajah yang tidak lazim (kadang-kadang dengan macroglossia)

· Kornea terlihat berawan

· Umbilical hernia

· Angiokeratoma

· Bertubuh pendek

· Deformitas skeletal

· Organomegaly (terutama hati dan limpa)

· Kurangnya kontrol atau lemah otot (seperti: ataksia, kejang-kejang)


6. Bagaimana patofisiologi LSD?

1. Umbilical hernia, yaitu lemahnya otot yang berada di sekitar pusar sehingga organ-organ yang mengalami pembesaran gampang untuk menonjol ke permukaan menyebabkan perut menjadi tidak rata.

2. Hepatomegali, yaitu pembesaran bagian hati melebihi ukuran normalnya sehingga hati tidak mampu menjalankan tugasnya dalam penawar racun dan darah tidak dapat dirombak serta penyimpanan glikogen terganggu.

3. Splenomegali, yaitu pembesaran limpa akibat penumpukan materi tidak tercerna dalam sel-sel limpa.

4. Dysostosis multiplex, yaitu penulangan tidak sempurna pada tubuh sehingga mengakibatkan tubuh penderita mengalami kelainan bentuk tulang rawan dan keterbelakangan mental.

5. Hidrosefalus, yaitu pembesaran kepala akibat akumulasi air di sekitar otak yang memberi penekanan pada otak, sehingga penderita sering merasa pusing-pusing, perkembangan terlambat, dan lain-lain.

6. Saraf mata, penderita dapat mengalami kebutaan akibat gangguan saraf mata, sehingga penglihatan tidak bisa diteruskan ke otak.

7. Kornea, pandangan menjadi kabur akibat adanya pengeruhan.


7. Bagaimana pengangan LSD?

a. Hematopoietic stem cell transplant (HSCT)

Sel-sel induk yang sehat (umumnya dari sumsum tulang atau tali pusat) ditransplantasikan ke dalam tubuh penderita LSD melalu intravena. Hal tersebut dilakukan guna untuk menghasilkan enzim-enzim serta sel-sel sehat yang baru. Namun, ada tantangan dalam melakukan HSCT, yakni kesulitan untuk mencari donor yang sesuai dan kegagalan transplantasi. Dengan HSCT, ada kemungkinan terjadinya komplikasi, seperti penolakan dari sistem imun penderita.

b. Enzyme replacement therapy (ERT)

Dilakukan dengan cara memasukkan enzim yang tidak ada di lisosom langsung ke darah penderita LSD melalui intravena. ERT merupakan pilihan pengobatan untuk Gaucher Tipe I, Fabry, dan MPS I.

c. Penghambatan substrat

Hal ini dilakukan dengan terapi obat untuk menghambat produksi substrat yang seharusnya dicerna oleh enzim tertentu pada lisosom. Hal tersebut berguna agar tidak terjadi penumpukan substrat pada sel.

d. Terapi gen

Terapi gen dilakukan dengan cara menggantikan yang mengalami kelainan dengan gen yang fungsional sehingga sel dapat bekerja secara normal, yakni menghasilkan enzim secara tepat. Gen yang ditambahkan dibawa oleh vektor, seperti virus.

Referensi

  1. Campbell NA. Reece JB. Mitchell LG. Biologi. ed 5th. Jakarta: Erlangga, 2002. pg. 124-126.
  2. http://www.cytochemistry.net/Cell-biology/lysosome.htm (26 Feb. 2011)
  3. http://www.lysosomallearning.com/patient/about/lsd_pt_abt_lsd.asp (26 Feb. 2011)
  4. http://www.lysosomallearning.com/healthcare/about/lsd_hc_abt_treatment.asp (26 Feb. 2011)
  5. http://www.lysosomallearning.com/healthcare/about/lsd_hc_abt_classification.asp (26 Feb. 2011)
  6. Fitantra. Lisosomal Storage Disease. Diunduh dari: http://www.dokter-kita.com/sel-dan-biomolekuler/lisosomal-storage-disease/ (27 Feb. 2011)

Konseling Genetik

Konseling genetik merupakan proses komunikasi yang berkaitan dengan masalah-masalah manusia yang berhubungan dengan kejadian atau resiko terjadinya kelainan genetik dalam keluarga.1 Prinsip dasar dari konseling genetik adalah seorang konselor hendaknya memberikan informasi kepada pasien yang mendatanginya, bukanlah nasehat. Secara universal telah disepakati bahwa konseling genetik sifatnya jangan memaksa dan tidak mengarahkan pasien terhadap tindakan khusus tertentu. Selain itu, konselor genetika hendaknya dapat melakukan pendekatan yang sifatnya bukan mengajukan pendapat.2 Tujuan dari konseling genetik adalah memberikan informasi dan support kepada keluarga yang memiliki risiko atau sudah memiliki anggota keluarga dengan kelainan genetik. Proses ini melibatkan upaya konselor dalam membantu sebuah keluarga untuk:

  • Memahami fakta medis, termasuk diagnosis.
  • Memahami bahwa adanya keterkaitan penyakit tersebut dengan pewarisan keturunan dan risiko terjadinya penyakit berulang pada keluarga.
  • Memahami pilihan-pilihan dalam mangangani penyakit.

Umumnya, seseorang pergi ke seorang konselor genetik sebelum atau selama masa kehamilan untuk mendiskusikan kemungkinan faktor-faktor yang dapat meningkatkan peluang memiliki anak dengan kelainan. Konseling genetik diberikan kepada orang tua yang sebelumnya (mungkin) memiliki anak dengan kelainan genetik, salah satu orang tua (mungkin) memiliki kelainan genetik, dan pasien yang keluarganya (mungkin) memiliki kelainan genetik. Berikut adalah hal-hal yang dilakukan dalam konseling genetik, yakni:3

· Reaching accurate diagnosis

Hal-hal yang dilakukan adalah mencari tahu tentang sejarah keluarga pasien. Hal tersebut berguna untuk untuk menegakkan diagnosis. Kemudian, melakukan pemeriksaan fisik. Pemeriksaan yang dilakukan berguna untuk mencari tahu adanya penyakit lainnya pada pasien. Selain itu, pemeriksaan lain yang dapat dilakukan adalah pemeriksaan radiologi, dan analisis DNA. Analisis DNA digunakan untuk memastikan penyakit yang diderita pasien merupakan kelainan genetik.

· Estimation of recurrence risk

Hal yang dilakukan meliputi pembuatan pedigree dan menerapkan perhitungan risiko terjadinya penyakit. Pembuatan pedigree berguna untuk mengetahui tentang kelainan genetik lain yang pernah diderita keluarga pasien. Selain itu, dengan adanya pedigree, dapat dilihat pula apakah adanya kemungkinan pernikahan saudara.

· Genetic counseling

Pada konseling genetik, konselor memberikan alternatif-alternatif yang dapat diambil oleh keluarga pasien untuk menghindari terulangnya kasus yang sama. Selain itu, konselor juga melakukan kalkulasi risiko.

· Desicion making

Konselor hanya memberikan pilihan-pilihan kepada keluarga pasien, sehingga harus menghormati semua keputusan yang akan diambilnya.

Dalam memastikan diagnosis, tes genetik yang dapat dilakukan adalah:4

  • Carrier Testing: tes yang dilakukan untuk menentukan apakah seseorang membawa satu salinan mutasi gen untuk suatu penyakit resesif tertentu. Cara yang dilakukan pada tes ini adalah dengan analisis langsung dari gen, gen yang telah diekstrasi dari sel darah akan diuji untuk melihat adanya mutasi. Jenis tes ini ditawarkan kepada seseorang yang memiliki sejarah keluarga dengan kelainan genetik.
  • Preimplementation Genetic Diagnosis (PGD): teknik khusus yang dapat mengurangi risiko memiliki anak dengan kelainan genetik. Hal ini dilakukan untuk mendeteksi perubahan genetik pada embrio yang dibuat dengan fertilisasi in vitro.
  • Prenatal Testing: tes ini digunakan untuk mendeteksi perubahan dalam gen atau kromosom pada janin. Tes ini ditawarkan selama kehamilan jika ada peningkatan risiko bayi yang akan dilahirkan memiliki kelainan genetik.
  • Newborn Screening: tes ini dilakukan hanya setelah kelahiran anak untuk mengidentifikasi gangguan genetik yang dapat diobati sedini mungkin.
  • Diagnostic/confirmatory Testing: tes yang digunakan untuk mengidentifikasi atau mengkonfirmasi diagnosis suatu penyakit berdasarkan tanda-tanda fisik dan gejala. Selain itu berguna untuk memprediksi perjalanan penyakit dan penentuan pemilihan pengobatan. Tes ini dapat dilakukan sebelum kelahiran atau selama pasien hidup.
  • Predictive Testing: tes untuk menentukan kemungkinan bahwa seseorang yang sehat dengan memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tertentu atau tidak, mungkin akan menderita penyakit tersebut.

Adapula pilihan yang dapat diberikan oleh seorang konselor genetika kepada keluarga pasien yang memiliki risiko anaknya mengalami kelainan genetik jika ingin menambah keturunan, yakni:

  • Menerima risiko yang akan terjadi dan tetap mengandung anaknya.
  • Melakukan prenatal diagnosis.
  • Melakukan preimplantasi diagnosis.
  • Mendapatkan anak melalui gamete donation.
  • Mengadopsi anak.

Oleh karena itu, untuk menghindari terjadinya hal yang tidak diinginkan, ada baiknya pasangan yang belum menikah untuk melakukan pemeriksaan pranikah. Pemeriksaan tersebut berguna untuk mengetahui kondisi pasangan serta proyeksi masa depan pernikahan, terutama berkaitan dengan genetika.5

Referensi:

  1. Schmerler S. Lessons Learned: Risk Management Issues in Genetic Counseling. New York: Springer. 2008. Pg. 127.
  2. Hull D, Johnston DI. Dasar-dasar Pediatri. Ed. 3th. Jakarta: EGC. 2008. Pg. 31.
  3. Dr. Damayanti Rusli Sjarif. Slide : What is genetic counselling (GC) ?
  4. What are the types of genetic tests? Diunduh dari: http://ghr.nlm.nih.gov/handbook/testing/uses (2 Maret 2011)
  5. Pemeriksaan Kesehatan Pra Nikah, Kenapa Harus? Diunduh dari: http://www.pdpersi.co.id/?show=detailnews&kode=917&tbl=artikel (2 Maret 2011)
  6. Behrman RE, Kliegman RM, Jenson HB. Nelson Textbook of Pediatrics. Ed. 17. Saunders. 2004.

Virus

Virus Secara Umum

Virus merupakan penyebab infeksi terkecil yang memiliki diameter 20-300 nm. Virus hanya mengandung satu jenis asam nukleat (DNA atau RNA). Asam nukleat yang dimiliki virus mengandung informasi-informasi yang diperlukan untuk memerintah sel inang yang terinfeksi untuk mensintesis makromolekul khusus yang dibutuhkan dalam pembentukan virus baru. Asam nukleat pada virus tebungkus oleh kulit protein (kapsid) yang dikelilingi oleh selubung (envelope). Virus tidak aktif jika berada di diluar sel hidup. Virus hanya bereplikasi pada sel hidup, sebagai parasit pada tingkat genetik.1

Asal Evolusi Virus

Asal virus tidak diketahui. Namun, terdapat beberapa teori mengenai asal virus, yakni:

  • Virus mungkin berasal dari komponen DNA atau RNA sel inang yang kemudian berubah. Komponen tersebut menyerupai gen yang telah memperoleh kemampuan untuk hidup tanpa tergantung dari sel.
  • Virus mungkin berasal dari bentuk degenerasi dari parasit intraseluler. Tidak ada bukti bahwa virus berasal dari bakteri meskipun ada kemungkinan bahwa organisme intraseluler obligat lain, misalnya klamidia, berasal dari cara tersebut.1
  • Teori Escaped Gene: virus berasal dari asam nukleat yang normal dan independen dari sel. DNA virus dapat berasal dari plasmid, sedangkan RNA virus berasal dapat dari mRNA.
  • Teori Regressive: degenerasi dari sel prokariotik yang hidup parasit pada sel eukariotik.2

Klasifikasi Virus

Dasar Klasifikasi

1. Bentuk virion: ukuran, bentuk, jenis simetri, dan ada atau tidak adanya membran.

2. Jenis asam nukleat: DNA atau RNA, beruntai tunggal atau ganda.

3. Sifat-sifat psychochemical virion.

4. Sifat protein virus.

5. Sifat biologi.

Klasifikasi tertua virus didasarkan pada penyakit yang ditimbulkan (klasifikasi berdasarkan Simtomatologi) dan sistem ini menawarkan kemudahan tertentu untuk pengobatan klinik. Namun, klasifikasi ini tidak memuaskan ahli biologi karena virus yang sama dapat muncul dalam beberapa kelompok apabila virus tersebut menyebabkan beberapa penyakit. Virus hanya memiliki ordo, famili, genus, dan spesies. Pada tahun 2005, International Commission on Taxonomy of Viruses (ICTV) mengatakan bahwa telah ditemukan tiga ordo, 73 famili, 287 genus, dan lebih dari 1900 spesies virus. Faktor-faktor yang diperhatikan dalam klasifikasi virus adalah:

  • Sel inang (vertebrata/invertebrata, tanaman, alga/fungi, bakteri)
  • Morfologi (simetri pada kapsid, memiliki selubung/tidak)
  • Tipe genome

Adapun cara penamaan virus, yaitu nama famili selalu diakhiri –viridae, subfamili diakhiri dengan –virinae, dan genus diakhiri dengan –virus. contohnya adalah Ordo: Mononegavirales, Famili: Paramyxoviridae, Subfamili: Paramyxovirinae, Genus: Morbillivirus, dan Spesies: measles virus.2

Struktur Virus

Pengetahuan mengenai struktur virus diperlukan untuk memahami interaksi antara partikel-partikel virus dengan reseptor permukaan sel. Pengetahuan ini menjadi dasar untuk menciptakan obat khusus yang dapat mencegah pelekatan virus.

· Materi genetik

Virus mengandung asam nukleat DNA atau RNA yang menyandikan informasi genetik yang diperlukan untuk replikasi. Genom virus dapat beruntai tunggal atau beruntai ganda, berbentuk lingkar atau linear, dan bersegmen atau tidak bersegmen. Jenis asam nukleat, jenis untai, dan bobot molekul adalah ciri utama yang digunakan untuk menggolongkan virus ke dalam famili-famili. Gabungan dari DNA/RNA dan kapsid disebut juga sebagai nukleokapsid. Gambar disamping adalah contoh jenis untaian pada genom virus.1

· Kapsid

Karakteristik bentuk dari virus ditentukan oleh kapsid. Pada virus yang tidak memiliki selubung, kapsid merupakan bagian terluar. Kapsid berfungsi untuk menjaga asam nukleat dari lingkungan, seperti UV. Kapsid dibuat dari subunit yang bernama kapsomer. Kapsomer memiliki kemampuan untuk membentuk kapsid. Kapsomer tersusun secara sistematis untuk memberi bentuk kapsid, yaitu ikosahedral dan heliks. Namun, ada pula virus yang memiliki bentuk kapsid kompleks.2

· Selubung (envelope)

Selubung lebih banyak ditemukan pada virus yang menyerang hewan. Selubung lebih bersifat rentan pada tekanan dari lingkungan.2

Siklus Replikasi Virus

  • Adsorpsi
  • Penetrasi
  • Replikasi
  • Assembly
  • Release







Identifikasi Virus

Ada kriteria-kriteria dalam mengidentifikasi suatu partikel sebagai virus, yaitu:1

  • Partikel hanya dapat diperoleh dari sel atau jaringan yang terinfeksi.
  • Partikel-partikel yang diperoleh dari berbagai sumber bersifat sama dan identik, tanpa mempedulikan spesies sel tempat tumbuh virus.
  • Tingkat aktivitas infeksi dari sediaan berbanding lurus dengan jumlah partikel yang ada.
  • Tingkat kerusakan fisik partikel yang disebabkan oleh sarana kimia dan fisik sesuai dengan hilangnya aktivitas virus.
  • Sifat-sifat tertentu dari partikel dan kemampuan infeksinya harus terbukti sama, misalnya perilaku pengendapan dalam ultrasentrifugasi dan kurva stabilitas pH-nya.
  • Spektrum absorpsi dari partikel fisika murni merupakan kisaran ultraungu harus bertepatan dengan spektrum ultraungu virus.
  • Antiserum yang disiapkan terhadap virus infektif harus bereaksi dengan partikel yang dimaksud dan sebaliknya.
  • Partikel-partikel tersebut harus dapat menginduksi penyakit yang khas.
  • Masuknya partikel dalam biakan jaringan harus menghasilkan turunan dengan sifat-sifat biologi virus.

Daftar Pustaka

  1. Brooks GF, Butel JS, Morse SA. General Properties of Viruses. Jawetz, Melnick & Adelberg’s Medical Microbiology. 24th ed. USA: The McGraw-Hill Companies; 2007.
  2. Hogg S. Essential Microbiology. London: Willey. 2005. p. 237-247.

Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Diferensiasi Sel

Diferensiasi merupakan proses tumbuh dan berkembangnya sel ke arah fungsi khusus yang tidak dimiliki oleh sel asal. Diferensisasi dikatakan dapat terjadi jika ada perubahan nyata pada morfologi sel (misalnya pembentukan sel epitel kulit dari sel ektodermal) atau perubahan fungsi yang khusus dari sel. Sel-sel yang mempunyai berbagai variasi diferensiasi dapat mempunyai karakteristik pertumbuhan yang berbeda. Variasi diferensiasi juga mempengaruhi kemampuan beberapa sel untuk berpindah dengan memperhatikan yang lainnya. Jadi, perkembangan embriologis yang normal memerlukan kordinasi yang tinggi dari proses diferensiasi, pertumbuhan, dan perpindahan sel yang secara keseluruhan membentuk morfogenesis (proses pembentukan/perkembangan struktur ukuran dan bentuk organ).

Diferensiasi embrionik sel dipengaruhi beberapa faktor, antara lain kontrol gen, hormon sistemik, letaknya, pertumbuhan pertumbuhan lokal, dan matriks protein. Pengaturan tahap diferensiasi tergantung pada faktor-faktor tersebut. Selain itu, growth factors juga mempengaruhi proses diferensiasi sel.

- Kontrol gen

Seperti pada kebanyakan sel yang berdiferensiasi, perbedaan yang terdapat diantara sel-sel lain bukan disebabkan oleh peningkatan atau pembuangan gen. Perbedaan sel tersebut disebabkan sel mengekspresikan gen yang berbeda. Gen diaktifkan dan dimatikan untuk mengatur sintesis produk gen. Fakta mengatakan bahwa banyak tahap “keputusan” penting diferensiasi dalam embriogenesis di bawah kontrol transkripsional (pengontrolan pembentukan mRNA).1

- Asam retinoat

Salah satu yang berperan dalam diferensiasi sel antara lain adalah asam retinoat yang berasal dari vitamin A. Asam retinoat berfungsi untuk mendorong pertumbuhan dan diferensiasi normal jaringan epitel.2

- Growth factor

Growth factor yang mempengaruhi proses diferensiasi sel adalah BMP-4 (Bone Morphogenic Protein). BMP-4 memiliki peran penting dalam pembentukan tulang. Pada amfibi, BMP-4 aktif pada sel yang berada pada ventral gastrula. 3

Pada saat pertumbuhan embrio, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi pertumbuhan tersebut, antara lain:1

  • Faktor genetik
  • Faktor nutrisi
  • Faktor lingkungan

Pada saat proses diferensiasi sel telah tercapai, kondisi sel harus dijaga. Hal tersebut dilakukan melalui kombinasi berbagai faktor, yaitu:

  • Cell memory yang terdapat dalam genome.
  • Interaksi dengan sel-sel terdekat, melalui faktor parakrin.
  • Sekresi berbagai faktor (faktor autokrin), termasuk faktor tumbuh.

Daftar Pustaka

  1. J.C.E Underwood. Sarjadi , editor. Patologi Umum dan Sistemik Volume 1. Edisi 2. Jakarta: EGC. 1999.
  2. Suyono J, Sadikin V, Mandera LI, editors. Biokimia Kedokteran Dasar: Sebuah Pendekatan Klinis. Jakarta: EGC. 2000.
  3. Campbell NA, Reece JB, Mitchell LG. Biology. 7th ed. San Frasisco: Pearson Benjamin Cummings. 2005.

Konseling Genetik - Sindrom Down

Cases : Dr. and Mrs Sunarto are from Jakarta. Dr. Sunarto age 40 is a surgeon and Mrs. Sunarto age 38 is a corporate lawyer. They just have their first child and diagnosed as Down syndrome. Please arrange your genetic counseling for this family.

Sebagai seorang konselor yang didatangi keluarga dr. Sunarto, hal pertama yang dilakukan adalah melakukan assessment atau pengumpulan informasi yang berguna untuk menegakkan diagnosis. Hal yang dilakukan adalah memastikan sang anak benar-benar menderita sindrom Down. Hal tersebut dapat dipastikan dengan melakukan analisis kromosom. Analisis kromosom dilakukan guna tidak terjadi kesalahan dalam diagnosis. Jika sang anak menderita sindrom Down, maka akan terlihat adanya kelainan di kromosom nomor 21 yang dinamakan sebagai trisomi 21.

Setelah memastikan sang anak benar-benar mengalami sindrom Down, konselor harus memberitahukan hal tersebut kepada keluarga dr. Sunarto. Karena Tuan Sunarto merupakan seorang dokter bedah, setidaknya beliau sudah mengetahui tentang sindrom Down. Namun, kita juga tetap harus menjelaskan lebih kepada keluarga tersebut sehingga keluarga dapat memahaminya. Jika keluarga dr. Sunarto bertanya mengenai kondisi sang anak, kita dapat menjelaskannya dengan sebaik mungkin. Salah satu hal yang dapat dijelaskan adalah anak-anak yang menderita sindrom Down memerlukan perhatian khusus dari orang tua dan harapan hidup bagi anak penderita sindrom Down. Pada awalnya mungkin keluarga dr. Sunarto akan memberikan reaksi terhadap penjelasan yang diberikan. Kita pun dapat menjelaskan bahwa anak yang menderita sindrom Down adalah individu yang memiliki hak yang sama dengan anak normal lainnya.

Hal yang dilakukan selanjutnya adalah melakukan pemeriksaan fisik kepada sang anak. Pemeriksaan fisik ini berguna untuk mencari tahu mengenai adanya penyakit lain yang mungkin terdapat pada sang anak. Umumnya, anak yang mengalami sindrom Down dapat disertai dengan penyakit jantung bawaan. Dengan hal tersebut, kita dapat mencegah kemungkinan-kemungkinan yang akan terjadi pada sang anak. Tahap selanjutnya yang akan dilakukan adalah mencari informasi tambahan mengenai sejarah penyakit sindrom Down dari keluarga dr. Sunarto. Kita dapat melakukan pemeriksaan fisik kepada dr. Sunarto dan sang isteri. Hal ini dilakukan untuk mencari tahu adanya translokasi kromosom yang mungkin terjadi sebab kemungkinan terulangnya kejadian sindrom Down yang disebabkan translokasi adalah 5-15 %. Selain itu, kita juga dapat menanyakan usia sang Ibu saat mengandung anaknya. Apabila umur Ibu di atas 35 tahun, diperkirakan terdapat perubahan hormonal yang dapat menyebabkan non-disjunction pada kromosom.

Tahap berikutnya adalah mencari informasi mengenai sejarah penyakit sindrom Down di keluarga dr. Sunarto dan Ibu Sunarto dengan merancang predigree. Kita harus mengetahui apakah generasi sebelumnya juga pernah menderita Sindrom Down. Selain itu, kita juga harus mengecek penyebab kematian pada generasi sebelumnya sehingga kita dapat mengetahui penyebab dan faktor lain yang mempengaruhi kelainan pada anak tersebut. Selanjutnya, kita juga harus mengetahui latar belakang sosial, ekonomi, maupun agama dari keluarga tersebut.

Lalu, kita dapat memberikan pilihan-pilihan terapi kepada keluarga dr. Sunarto. Pilihan yang diajukan dapat berupa penanganan secara medis dan pendidikan untuk sang anak. Orang tua harus memberikan perhatian khusus untuk sang anak, seperti pendengaran, penglihatan, kelainan tulang, maupun nutrisi sang anak. Selanjutnya, kita juga dapat memberikan pilihan pendidikan antara lain adalah mengikuti program pendidikan khusus (SLB-C) untuk anak penderita sindrom Down. Dengan bersekolah, anak akan mendapatkan perkembangan keterampilan fisik, akademis, maupun sosial sehingga anak tersebut dapat memperoleh identitas personalnya dan kesenangan. Hal lain yang dapat dilakukan adalah mengikuti program intervensi dini pada penderita sindrom Down. Anak-anak tersebut akan mendapatkan manfaat dari stimulasi sensoris dini, petunjuk agar anak mampu berbahasa, dan latihan khusus yang mencakup aktivitas motorik.

Setelah itu, kita dapat menghitung risiko genetik. Hal ini dilakukan dengan cara menghitung kemungkinan sindrom Down dapat terjadi pada kelahiran berikutnya. Jika Ibu Sunarto ingin memiliki keturunan lagi, ada beberapa alternatif yang dapat dipilih. Pada saat pemberian alternatif, kita menyerahkan semua pilihan kepada keluarga tersebut. Alternatif-alternatif yang dapat dipilih, yakni:

· Ibu Sunarto akan menerima resiko yang akan terjadi dan tetap mengandung anaknya.

· Ibu Sunarto melakukan diagnosis prenatal. Diagnosis prenatal ini memiliki fungsi, antara lain adalah untuk menentukan hasil kehamilan, memutuskan apakah akan melanjutkan kehamilan, perencanaan untuk kemungkinan komplikasi, dan mengetahui kondisi yang dapat mempengaruhi kehamilan. Jika didapatkan janin yang dikandung menderita sindrom Down, maka dapat ditawarkan terminasi kehamilan kepada orang tuanya. Jadi, semua pilihan yang akan diambil keluarga tetap tergantung pada keputusan keluarga tersebut.

· Ibu Sunarto dapat melakukan pre-implantasi diagnosis

· Mendapatkan anak melalui gamete donation.

· Kelurga dr. Sunarto dapat mengadopsi anak.

Hal yang harus diingat adalah kita sebagai konselor hanya memberikan pilihan-pilihan kepada orang tua. Kita harus menghormati semua keputusan yang akan diambil keluarga tersebut. Selain itu, kita harus membina hubungan yang baik dengan keluarga dr. Sunarto dan melakukan follow up terhadap perkembangan anak mereka.

Referensi

  1. Soetjiningsih. Tumbuh Kembang Anak. Jakarta: EGC, 1995. pg. 211-220.
  2. Fitantra JB. Diagnosis Prenatal. Diunduh dari: http://www.dokter-kita.com/sel-dan-biomolekuler/diagnosis-prenatal/